A. Elektronegatifan
Elektronegativitas adalah kemampuan
suatu atom pada suatu molekul untuk menarik elektron ke dalam struktur atom
tersebut. Elektronegativitas merupakan afinitas dari suatu atom untuk menarik
elektron pada suatu ikatan. Elektronegativitas berpengaruh pada pembentukan
kutub polar dalam suatu senyawa kimia. Nilai perbedaan
elektronegativitas dari dua unsur dapat digunakan dalam menentukan jenis ikatan
yang terbentuk ketika kedua unsur tersebut membentuk senyawa. Terbentuknya
ikatan ionik dan kovalen ditentukan dari perbedaan nilai elektronegativitas
dari unsur-unsur pembentuk senyawanya. Dalam suatu sistem periodik unsur, kecenderungan nilai elektronegativitas
meningkat dari kiri ke kanan dan berkurang dari atas ke bawah.
B. Ikatan Hidrogen
Ikatan hidrogen adalah ikatan antar
molekul (bukan antar atom). Ikatan ini terjadi pada senyawa-senyawa yang sangat
polar seperti HF, H2O, dan NH3. Sebagai contoh antar molekul HF dengan molekul
H2O, H2O – H2O, HF-HF, H2O-NH3, dst. Lebih jelasnya ikatan ini terjadi antara
atom yang sangat elektronegatif dari suatu molekul dengan atom yang kurang
elektronegatif dari molekul yang lain, misal antara atom F dari molekul HF
dengan atom H dari molekul H2O.
Beberapa Senyawa yang mengalami ikatan
Hidrogen antara lain:– H2O
– HF
– NH3
– C2H4O (etanol) dan lain-lain
Ikatan hidrogen terjadi ketika ada
molekul F, N, O yang memiliki pasangan e bebas. pasangan e bebas tadi menarik
satu/beberapa atom H dari dari molekul lain yang akhirnya membentuk ikatan
Hidrogen satu sama lain. Intinya senyawa yang mengandung salah satu dari F, N,
O. Yang di dalamnya terdapat H pasti berikatan Hidrogen. Ikatan ini tidak
terlalu kuat sehingga lebih gampang diputuskan daripada ikatan ionik maupun
kovalen, apalagi dibanding ikatan logam.
C. Gaya Van Der Walls
Gaya van der Waals dalam
ilmu kimia merujuk pada jenis tertentu gaya antar molekul. Istilah ini pada
awalnya merujuk pada semua jenis gaya antar molekul, dan hingga saat ini masih
kadang digunakan dalam pengertian tersebut, tetapi saat ini lebih umum merujuk
pada gaya-gaya yang timbul dari polarisasi molekul menjadi dipol.
Gaya Van Der Waals terjadi akibat interaksi antara
molekul-molekul non polar (Gaya London), antara molekul-molekul polar (Gaya
dipole-dipol) atau antara molekul non polar dengan molekul polar (Gaya
dipole-dipol terinduksi). Ikatan Van Der Waals terdapat antar molekul zat cair
atau padat dan sangat lemah. Gaya Van Der Waals dahulu dipakai untuk
menunjukkan semua jenis gaya tarik-menarik antar molekul. Namun kini merujuk
pada pada gaya-gaya yang timbul dari polarisasi molekul yang terlemah menjadi
dipole seketika. Pada saat tertentu, moleku-molekul dapat berada dalam fase
dipole seketika ketika salah satu muatan negative berada di sisi tertentu. Dalam
keadaan dipol ini, molekul dapat menarik atau menolak electron lain dan
menyebabkan atom lain menjadi dipole. Gaya tarik menarik yang muncul sesaat ini
merupakan gaya Van Der Waals.
Karena gaya ini sangat lemah maka zat yang mempunyai ikatan van der waals
akan mempunyai titik didih yang sangat rendah. Meskipun demikian gaya van der
waals bersifat permanen dan lebih kuat dari gaya london. Contoh gaya van der
waals terdapat pada senyawa hidrokarbon. Misalnya pada senyawa CH4.
Perbedaan keelektronegatifan C (2,5) dengan H (2,1) sangat kecil, yaitu sebesar
0,4.
Senyawa-senyawa yang mempunyai ikatan van der waals akan mempunyai titik
didih sangat rendah, tetapi dengan bertambahnya Mr Ikatan akan makin kuat
sehingga titik didih lebih tinggi. Contohnya, titik didih C4H10>C3H8>C2H6>CH4.
Contoh lainnya terdapat pada Br2 dan I2. Br2
berwujud cair tetapi mudah menguap dan I2 berwujud gas tetapi mudah
menyublim. Hal ini disebabkan karena ikatan antara molekul Br2 dan I2
adalah ikatan van der waals.
D. Efek Induksi
Dalam suatu ikatan kovalen tunggal dari atom yang
tak sejenis, pasangan electron yang membentuk ikatan sigma, tidak pernah
terbagi secara merata di antara kedua atom. Electron memiliki kecenderungan
untuk tertarik sedikit ataupun banyak kea rah atom yang lebih elektronegatif
dari keduanya. Misalnya dalam suatu alkil klorida, kerapatan electron cenderung
lebih besar pada daerah didekat atom Cl daripada atom C. sebagai penunjuk bahwa
atom yang satu lebih elektronegatif, secara umum dituliskan sebagai berikut:
- - Jika atom karbon
terikat pada klorin dan ia sendiri berikatan pada atom karbon selanjutnya, efek
induksi dapat diteruskan pada karbon tetangganya. Akibat
dari pengaruh atom klorin, electron pada ikatan karbon klorin didermakan
sebagian ke klorin, sehingga menyebabkan C1 sedikit kekurangan electron.
Keadaan C1 ini menyebabkan C2 mesti mendermakan juga sebagian elektronnya pada
ikatan C2 dengan C1 agar menutupi kekurangan electron di C1. Begitu seterusnya.
Namun, efek ini dapat hilang pada suatu ikatan jenuh (ikatan rangkap), efek
induktif ini juga semakin mengecil jika melewati C2. Pengaruh distribusi
electron pada ikatan sigma ini dikenal sebagai efek induksi. Sebagai
perbandingan relatifitas efek induksi, kita memilih atom hydrogen sebagai
molekul standarnya, misalnya CR3-H.
J - Jika ketika atom H dalam molekul ini diganti
dengan Z (atom ataupun gugus), kemudian kerapatan electron pada bagian CR3
pada molekul ini berkurang daripadadalam CR3-H, maka Z dapat
dikatakan memiliki suatu efek – I (efek penarik electron / electron-withdrawing
/ electron-attracting). Contoh gugus dan atom yang memiliki efek – I: NO2,
F, Cl, Br, I, OH, C6H5-.
- - Jika kerapatan electron dalam CR3
bertambah besar dari pada dalam CR3-H, maka Z dikatakan memiliki
efek + I (efek pendorong electron / electron-repelling / electron-releasing).
Contoh gugus dan atom yang memiliki efek + I: (CH3)3C-,
(CH3)2CH-, CH3CH2-, CH3-.
E. Resonansi
Resonansi secara singkat dapat dikatakan dengan suatu senyawa kimia
yang strukturnya sama tetapi konfigurasi elektronnya berbeda.
Aturan Struktur
Resonansi
- Struktur resonansi, menggambarkan molekul, ion,
radikal dan ion yang tidak cukup digambarkan hanya dengan sebuah struktur Lewis,
melainkan harus dengan dua atau lebih struktur Lewis. Sehingga dapat mewakili
struktur molekul, radikal atau ion dalam bentuk hibridisasinya. Tanda panah
untuk resonansi ↔
- Dalam menulis struktur resonansi, kita hanya
boleh memindahkan elektron, sedangkan posisi inti atom tetap seperti dalam
molekulnya.
- Semua struktur harus memenuhi struktur Lewis. Tidak
boleh menulis struktur ( atom karbon mempunyai lima ikatan).
F. Hiperkonjugasi
Merupakan delokalisasi yang
melibatkan elektron σ. Hiperkonjugasi di atas dapat dipandang sebagai overlap
antara orbital σ ikatan C-H dengan orbital π ikatan C=C, analog dengan overlap
π-π. Hiperkonjugasi disebut juga resonansi tanpa ikatan. Secara singkat efek
hiperkonjugasi merupakan perubahan dari suatu ikatan C-H menjadi ikatan C=C
atau C≡C oleh Hα. Hiperkonjugasi dapat meningkatakan kestabilan molekul dengan
semakin banyaknya Hα maka suatu molekul tersebut akan semakin stabil.
Contoh:
Jika suatu karbon yang mengikat atom hydrogen dan
terikat pada atom tak jenuh atau pada satu atom yang mempunyai orbital bukan
ikatan maka untuknya dapat dituliskan bentuk kanonik seperti diatas. Di dalam
bentuk kanonik seperti itu sama sekali tidak ada ikatan antara karbon dengan
ion hidrogen, dan resonansi seperti itu disebut resonansi tanpa ikatan.
Hidrogen tidak pergi (karena resonansi tersebut bukanlah suatu hal yang nyata
melainkan hanya bentuk kanonik yang berkontribusi ke struktur molekul nyata).
Efek struktur diatas pada molekul nyata adalah elektron dalam C-H
lebih dekat ke karbon daripada jika struktur diatas tidak
berkontribusi.
G. Tautomeri
Tautomer adalah senyawa-senyawa organik yang dapat
melakukan reaksi
antarubahan yang disebut tautomerisasi.
Seperti yang umumnya dijumpai, reaksi ini dihasilkan oleh perpindahan atom
hidrogen atau proton yang diikuti dengan pergantian ikatan tunggal dengan ikatan ganda di sebelahnya. Dalam larutan di mana tautomerisasi dapat
terjadi, kesetimbangan
kimia tautomer dapat dicapat. Rasio tautomer ini
tergantung pada beberapa faktor, meliputi temperatur, pelarut, dan pH.
Konsep tatomer yang dapat melakukan antarubahan dengan tautomerisasi disebut tautomerisme. Tautomerisme adalah
kasus khusus dari isomersime
struktur dan memainkan peran yang penting dalam pemasangan basa dalam molekul DNA
dan RNA.
H. Gugus
Fungsi
Gugus fungsi adalah gugus atom dalam molekul yang menentukan ciri atau
sifat suatu senyawa. Gugus fungsi ini merupakan atom selain atom karbon
dan atom hidrogen dalam senyawa hidrokarbon dan membentuk ikatan rangkap.
Adapun bagian-bagian dari molekul yang hanya terdiri dari atom karbon dan
hidrogen saja serta hanya mengandung ikatan tunggal saja disebut gugus-gugus
non fungsional. Gugus fungsi merupakan tempat untuk terjadinya reaksi kimia karena mangandung sifat keelektronegatifannya tinggi.
Gugus Fungsi Senyawa Karbon
Referensi :
https://id.wikipedia.org/wiki/Senyawa_organik
http://www.sridianti.com/pengertian-gugus-fungsi.html
http://gigihkurniawan.blogspot.co.id/2013/11/Resonansi-Konjugasi-Hiperkonjugasi.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Gaya_van_der_Waals
https://samadaranta.wordpress.com/2010/12/14/ikatan-hidrogen/






Mohon dijelaskan kembali mengenai bagaimana hubungan gaya van der waals terhadap struktur molekul senyawa organik? Terima kasih
BalasHapusTerimakasih.
HapusPengaruh gaya Van Der Waals terhadap struktur yaitu terjadi pengaruh sudut ikatan dan regangan ruang karena adanya gaya tarik dari ikatan hidrogen yang berjarak jauh.
Terimakasih atas penjelasan yang telah anda paparkan. Saya ingin bertanya bagaimana gambaran gaya van der waals secara umum? Mohon di jawab ya. Terima kasih
BalasHapusSecara umum, gambaran gaya van der waals yaitu apabila suatu atom atau senyawa yang terletak berjauhan maka senyawa tersebut secara tidak langsung saling berikatan, namun apabila didekatkan maka senyawa tersebut akan saling tolak-menolak.
Hapus